Jadi keingetan mau nulis tentang hal yang satu ini.
Minggu lalu, saya berkesempatan menjadi moderator sebuah talkshow di sebuah mal. (Lihat di sini). Merasa sebagai bagian dari komunitas, dan bertanggung jawab terhadap para pembicara, saya memutuskan untuk datang lebih awal.
Saat itulah saya menyaksikan dan mengalami pembicaraan ini.
Marketing Mal (MM): "Kok gak ada logo Mal ya... Kalo begini caranya, saya bisa kena marah bos saya"
Panitia 1 (P1): "Wah, iya... gimana donk Mas"
MM: "Saya gak mau tau, pokoknya harus ada."
P1: "Kita gak punya logo Mal-nya"
MM: "Seharusnya punya, saya kirim lewat imel bersama dengan denah"
P1: "Bener gak ada."
MM: "Harusnya otomatis donk, logo kita harus ada. Ayo kita cek imel."
P2: "Duh, Mas... sekarang kita cari penyelesaiannya bareng-bareng dech. "
MM: "Pokoknya saya gak mau tahu..." (note: Padahal pihak Mal pun mengingkari janjinya untuk memasang spanduk pemberitahuan acara)
bla bla bla...
Duh, masalah se-simple ini jadi ruwet urusannya karena si Marketing Mal yang SANGAT SANGAT tidak helpful. Alhamdulillah, masalah akhirnya dapat diselesaikan. Tapi terus terang, pengalaman ini membuat saya TIDAK AKAN merekomendasikan Mal ini.
OK, terlepas dari hal di atas.
Banyak pelajaran yang dapat ditarik. Salah satunya bagaimana melakukan negosiasi. Negosiasi yang baik, tentunya mengakomodir kepentingan kedua belah pihak dan win-win solution.
Memiliki toko online, sangat mungkin bagi kita untuk lakukan negosiasi. Dengarkan keinginan pelanggan, berikan solusi atas permasalahannya sesuai dengan kemampuan kita, minta maaf jika mereka tidak puas dengan solusi yang diberikan, tawarkan alternatif lain, selalu terbuka untuk diskusi.
Labels: artikel



