Pernah berpikir gak? Kalau perilaku kita terhadap orang lain, sangat mempengaruhi image kita secara keseluruhan, bahkan memungkin jadi digeneralisir sebagai pelaku M*L-M pada umumnya.
Kenapa saya bilang begitu?
Siang ini, telpon seorang sahabat memaksa saya untuk mengingat masa kegelapan (saat saya begitu antipati terhadap pelaku M*L-M)
Cerita pertama
Beberapa tahun yang lalu, saat saya baru saja menjadi seorang sarjana. Pada saat yang bersamaan, banyak rekan-rekan saya berkeluh kesah tentang bisnis X yang katanya bisa bikin orang cepat kaya.
Well, sampe sini gak ada yang aneh. Tapi cara mereka melakukan 'teror' lah yang membuat saya gerah. Kenapa saya bilang gerah, oknum M*L-M ini tidak segan mengetuk pintu rumah jam 10 malam untuk presentasi, bahkan dapat menahan malu untuk pura-pura cuek dengan kuapan sang tuan rumah. Gak berhenti sampe di situ. Kadang sang korban ditelpon berkali-kali, sampai akhirnya menyerah kalah dengan rela menjadi anggota dengan alasan agar teror berhenti.
Cerita kedua
Pertama saya mengenal Oriflame, saya bertemu dengan konsultan yang amat tidak hepful bahkan cenderung masa bodo dengan keluhan customer.
Awalnya,yang saya salahkan adalah perusahaannya, tapi... setelah belakangan berkenalan lebih jauh dengan Perusahaan luar biasa ini, malah saya rela menceburkan diri di dalamnya.
Ini cerita menyebalkan yang berkaitan dengan M*L-M.
Untunglah saya bergabung dengan jaringan luar biasa yang menyediakan sistem sehingga saya tidak perlu menjadi pelaku M*L_M yang menyebalkan.
Apa kaitannya dengan telpon sahabat saya barusan?
Setelah sekian lama kehilangan kontak dengan seorang rekannya (sebut saja Fulan), akhirnya dengan bantuan Om Google mereka dapat dipertemukan kembali. Tapi rupanya, pertemuan kembali mereka malah mampu membuat sahabat saya mencap Fulan sebagai orang yang terlalu M*L_M dan tidak tau sikon.
Kenapa bisa begitu?
Well... di awal percakapan mereka, ketika Fulan tau rekan saya berprofesi sebagai agen asuransi, langsung disambarnya dengan, "Wah, kalo githu gak asing lagi dengan James Gwee, Hermawan Kertajaya donk...?"
Di menit lain, saat Fulan minta dikirimkan sebuah buku lawas bukan best seller yang sudah tidak lagi terbit menurut sahabat saya, Fulan bilang begini, "Jangan bilang gak ada donk... Coba dicari dulu."
Intinya di 10menit perbincangan mereka, Fulan terus menerus mencekoki sahabat saya dengan 'doktrin' baik, tapi bernada merendahkan dan tidak sepantasnya dilakukan oleh dua orang yang telah sekian lama kehilangan kontak.
Lho, apa hubungannya cerita di atas dengan kita sebagai pelaku M*L-M?
Dalam menjalani bisnis yang core-nya adalah networking, menjalin hubungan baik dan pandai membawa diri menjadi hal yang paling dominan (apa di sebuah lini bisnis ya..)
Apapun bisnis yang sedang kita jalani, rasaya gak perlu di setiap kesempatan kita begitu menonjolkan sisi bisnis kita. Ada kalanya teman adalah teman, bukan prospek.
Di bisnis M*L_M manapun pasti dianjurkan untuk membuat memory jogger. Namun, bukan serta merta karena nomor kontak X ada di list phonebook Anda, Anda dapat mengganggu waktu istirahatnya. Siapapun kan sebel, setelah sekian lama Anda tidak pernah muncul di hadapannya, tau-tau minta waktu ketemu, disangka untuk silaturahmi eh... taunya buat presentasi.
Memory jogger penting
Tetap berpikir positif itu harus
Tapi yang paling penting, PANDAI MEMBACA SITUASI (tau kapan harus maju, tau kapan harus ngumpet sejenak)
Dan jadilah pribadi yang tetap menyenangkan.
Labels: artikel



